About this blog..

Total Tayangan Halaman

Menu

1/11/2018

Yang Layak Diperlombakan...

Rabu, 10 januari 2018. Hari sidang pelepasan koass adalah sebuah hari yang layak dikenang. Teruntuk sebagian kawan2 yang sudah diambang kepenatan dalam menjalani hari-harinya dalam dunia persilatan koass dan sebagai perayaan bagi kami yang dalam penantian masa tua. Berbagai macam kalimat bijak dan lantunan syukur dihadiratkan untuk sebuah hari itu. Ada kawan-kawan yang tertawa bahagia, menangis haru, ada pula yang menganggapnya biasa-biasa saja.

            Aku termasuk yang menanggapinya biasa-biasa saja. Entahlah, semakin dewasa kita, mungkin pandangan kita terhadap sesuatu akan terus berbeda dari sebelumnya. Ini tidak seperti saat aku masih MTsN dlu. Setiap waktu pembagian rapor, begitu antusiasnya diriku menunggunya. Berharap-harap cemas untuk dijadikan 10 besar dalam ranking kelas. Ini juga tidak seperti saat pengumuman SNMPTN dulu, begitu anxietasnya diri ini tatkala koran banjarmasin post menerbitkan daftar peserta yang lulus dalam seleksi.

            Bagiku, kita ini tak lain ialah kumpulan hari.. Yang setiap melewatinya, kian hilang sebagian dari diri. Pagi dan petang akan selalu sama, yang membedakannya adalah bagaimana cara kita menyambutnya, pun juga menjalaninya.. Hari-hari yang kita lalui tidak akan ada pengaruhnya terhadap dunia dan seisinya. Semesta akan tetap berjalan pada suratannya. Hari yang kita anggap adalah hari yang paling membahagiakan, mungkin bagi sebahagian orang justru terasa menyedihkan. Saat hari-hari kita berbunga-bunga karena cinta, disudut lain dunia ialah kelam penuh derita. Sebaliknya, saat kita anggap hari-hari kita penuh kidung duka, orang lain mungkin sedang berbahagia dengan cita-citanya. Oleh karenanya, hari itu, aku tidak ingin terlalu bahagia. Karena kusadari, “hari ini pun juga, pasti akan terlewati...”

Mungkin selaras dengan perasaanku dihari itu, ibu menyambut kedatanganku hanya dengan pertanyaan, “darimana saja nizar? koq lama”. Pertanyaan familiar yang sering ia ucapkan kepadaku, tidak ada yang istimewa. Dulu, ibunda sering menanyakan bagaimana nilaiku dihari2 spesial seperti itu. Pertanyaan tentang apakah semuanya baik2 saja, berjalan dengan semestinya dsb. Kupikir semakin kesini, apa yang ia harapkan padaku bukan tentang posisi, ranking, atau harta. Namun, lebih kepada seberapa berguna aku untuk keluarga. Saat melihatnya tersenyum pabila aku menemani ayah menjalani pengobatan, saat melihatnya berbunga-bunga tatkala aku membantu persalinan ‘acil’ ku (a.k.a tante) , ia merasa lega bila aku semakin berguna bagi sesama. Lalu aku menyadari bahwa ini yang menjadikan hari-hariku lebih berarti. Dan ini menjadi sebuah jawaban atas pertanyaanku selama ini, “Mengapa aku ingin menjadi dokter?”

Aku pun juga adalah orang yang tidak terlalu peduli dengan capaian orang lain. Aku tidak akan ambil pusing tentang seberapa kaya/suksesnya kawan2 yang telah mendahuluiku. Atau seberapa bahagianya kehidupan bertetangga kawan2 yang sudah menikah mendahuluiku. Toh, bukankah hari-hari yang seperti itu kelak akan kita alami juga? dan seperti biasanya, ketika dalam puncaknya, kita akan merasa biasa-biasa saja. Hanya mungkin, saat ini belum mendapati jalannya. Tentang siapa yang lebih dlu? menjadi sebuah pertanyaan lagi, apakah itu layak untuk diperlombakan?

Aku justru sangat iri dengan orang-orang yang mampu menghabiskan kesehariannya menjadi sebuah kenangan berarti bagi orang lain. Bahkan, saat ia tiada, kehadirannya tetaplah harum atas jasa2nya. Aku iri dengan para ulama yang namanya terus disebut hingga saat ini. Aku iri dengan para guru-guruku yang ilmunya masih berguna sampai kini. Aku iri dengan dokter-dokter konsulenku, yang kehadirannya begitu diharapkan puluhan muridnya, dan kealpaannnya menjadi sebuah kerinduan bagi pasien-pasiennya. Aku ingin seperti itu... Yang hidup di dunia bukan hanya sekedar menjalani hari-harinya dengan biasa saja, namun berlomba-lomba dalam kebaikan, ketaqwaan, dan kebermanfaatan bagi sesama.

Menulis, diiringi dengan music dari arctic empire –CMA “Forever in my heart”
dan kozoro, “Thank You”

Kamis, 11 januari 2018


11/23/2017

Ujian adalah Jalan Taubat (Selalu Sebuah Pilihan)

Wahai Tuhan Jauh sudah
Lelah kaki melangkah..
Aku hilang, tanpa arah..
Rindu hati pada sinarmu
Wahai Tuhan, Aku lemah
Hina, berlumur noda
Hapuskanlah, terangilah
Jiwa di hitam jalanku...
            
Okeee.., mari kita dendangkan sama2 lirik dari lagu Opick -Taubat yang dulunya cukup terkenal di zamannya album religi. Dikau bisa memulainya dari G D Em C , hhe. Aku banyak menyukai lagu-lagu dari penyanyi yang satu ini. Selain suaranya bagus dan aransemennya yang aduhai. Diksinya juga menyejukkan telinga. Kalau tidak salah, aku pernah membawakan lagu ini bersama kawan2 waktu pensi dulu. Masa-masa saat mahasiswa baru gitu.. meski dengan suaraku yang cempreng, nampaknya penampilan kami waktu itu cukup menghibur. Atau mungkin karena efek saya kali ya.... (*hueeekkk)

            Aku bukan ingin bercerita tentang biografinya. Yang aku ingin ceritakan adalah lagu ini nampaknya banyak mewakili perasaan banyak orang. Perasaan ketika mendapati hidup penuh dengan keterpurukan ataupun penyesalan. Ketika hari-hari kita senantiasa bergulir bersama cobaan dan ujian, bahkan jalan keluarnya saja tak nampak di penghujung lelah. Maka mari kita sejenak berpikir apakah masalah demi masalah yang kita lalui ini adalah sebuah peringatan? atau sebuah jalan untuk kita berpikir bahwa diri ini lemah dan betapa perlunya kita sebuah ampunan?

            Kawan... pernahkah kamu merenungi tentang kesalahan dan kekhilafan yang pernah dilakukan? Mungkin kita semua akan berpikiran sama, “Andai punya mesin waktu, aku ingin sekali merubah kembali masa2 itu..”. Dan sayangnya, berandai2 terkadang juga berupa bisikan setan. Membujukmu untuk terus melakukan maksiat dan kesalahan yang sama, sehingga kamu berpikir di masa depan mungkin kamu mampu merubah segalanya atau menghapus memori kelam di masa lalu. Tapi tahukah kawan? tak ada yang bisa memilih awal dan akhir hidup kita seperti apa, namun mengawali kebaikan dan mengakhiri keburukan itu, selalu sebuah pilihan.

            Saat aku bercerita seperti ini, bukan berarti aku seputih yang orang2 kira. Seringkali saat aku memejamkan mata, kusaksikan selimut2 mimpi yang meraung2 di dinding pikiranku. Setiap kali kututup telinga, terdengar bisik2 rencana hari ini dan masa depan. Dan setiapku terbenam dalam bisu, pikiran2 pahit tentang masa lalu akan selalu membakar khayalku itu. Entahlah, saat kuhembuskan nafas di pagi hari, terkadang akupun bangun dengan perasaan kecewa tanpa tau apa penyebabnya. Kata orang, ketidakmengertian membuat hidup menjadi hampa, dan kehampaan akan menciptakan ketidakpedulian, begitulah.. aku pun juga, memiliki sisi hitam...

            Apakah kamu pernah sepertiku? Dalam hidup ini, kesedihan yang mengganjal di hati kita mungkin muncul tatkala kita berfikir tentang keputusasaan akan jaring2 masa lalu. Mungkin juga sebuah ketakutan yang membayangi langkah saat merenungi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian itu. Entahlah, lika-liku hidup ini penuh misteri, segalanya adalah ketentuan Allah dan seluruhnya ialah kuasa-Nya. Oleh karenanya, bila hidupmu penuh dengan masalah dan cobaan. Yakin saja, jalan yang diberikan Allah pastilah yang terbaik akhirnya, maka ta’atlah kepada-Nya. Pasti kamu akan dibimbing-Nya.

            Mari berbenah diri, karena mungkin saja ujian yang menimpa hidupmu adalah petunjuk dari Allah agar kita bertaubat pada-Nya. Tak ubahnya kisah ujian yang menimpa kaum Nabi Musa dalam firman Allah surah al-a’raf : 155
“Musa berkata: Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang2 yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah yang memimpin kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampunan yang sebaik2nya.
            Dan mari kukatakan sekali lagi, awal dan akhir hidup kita tiada yang bisa memilih, namun mengawali kebaikan dan mengakhiri keburukan, itu selalu sebuah pilihan.




10/14/2017

Kita Sering Melupakan Allah Saat Senang

Allah, maaf kami sering lupa
Akan hadir-Mu yang selalu memberikan segala
Tak mampu kami sebutkan semua
Senang dan Sedih yang ada
Bagai kelupaan kami pada udara
Sumber dari penghidupan semesta

  Sejak kita terlahir di dunia, banyak hal-hal menyenangkan yang pernah kita alami. Dari mulai terlahir di keluarga kaya, mumpuni, dan mampu memenuhi segala kebutuhan, pun juga keinginan kita. Terlahir dengan anggota badan yang sempurna, lengkap dengan wajah cantik dan kulit putih bersih. Atau bilapun tidak secantik atau setampan yang dibayangkan, tetaplah maskara yang dikau beli akan mampu menutupinya.
                Kawan, jika dikau pernah berkeliling di rumah sakit, lihatlah kehidupan di sekitarmu. Berapa banyak yang hidupnya serba kekurangan dan membutuhkan pertolongan. Cobalah sesekali dikau berkunjung ke ruang jantung ataulah paru, lihatlah berapa banyak mereka yang kesusahan untuk hanya sekedar bernafas lega. Atau cobalah dikau tengok mereka yang berjuang melawan kankernya di ruang hematoonkologi. Dikau akan tau betapa berharganya setiap detik dan hari-hari mereka. Dan sungguh nyamannya kita yang bisa menghabiskan waktu bersama2 orang tercinta, sedang mereka, harus menghitung hari-harinya sebelum direnggut nyawa. Beruntungnya, kehidupanku selalu berkutat dengan yang namanya “sakit”. Mungkin, agar aku dipaksa belajar tentang maknanya “sakit”. Dan apa yang bisa kulakukan untuk rasa “sakit” tersebut.
                Pernah suatu ketika, aku jaga malam di stroke center (tempat rawat intensif penderita stroke). Waktu itu, ada pasien baru dengan stroke hemoragik (stroke karena pendarahan) yang diakibatkan pecahnya pembuluh darah otak –biasanya karena hipertensi-. Karena pasien tersebut penurunan kesadaran, maka sewajarnya sudah kulakukan pengawasan ketat. Sesekali aku duduk dimeja sambil menulis atau curi2 waktu makan. Mungkin karena iba denganku yang kelaparan, anak dari pasien tersebut menghampiriku sambil menyerahkan martabak dan terang bulan (wueenaaak tenaaan...). Ia mengucapkan terimakasih dan kemudian bercengkerama.
                Ia bilang selama ini kehidupannya sangat nyaman dan bahagia. Namun ketika papahnya dilanda sakit, ibu dan keluarganya juga tidak bisa tenang. Fokus mereka teralihkan untuk kesembuhan sang ayah. Pekerjaan rumah tangga dan luaran sering tak dihiraukan. Dirinya sendiri juga kesulitan untuk mengatur waktu kuliah. Sehingga saat itu, ia dan keluarga benar2 merasa kesulitan, dengan aktivitas kuliah, biaya sekolah, urusan rumah tangga dan pengobatan sang ayah.
                Satu hal penting yang ia sampaikan padaku. Ketika dalam kondisi kesusahan tersebut ia dan keluarga makin dekat dengan Allah, Yang Maha Pengampun dan Pemberi Kesembuhan. Ia makin sering mengaji, shalat, dan ibadah lainnya, berharap untuk dapat keluar dari kesusahan dan diberi kekuatan untuk bertahan dalam cobaan. Begitulah, seringkali hari-hari kita berlalu tanpa arti, dannn.. tidak ada salahnya untuk berubah. Semoga ayahnya sudah sehat wal afiat sekarang dan keluarga sudah bahagia seperti semula. Oh iya, anak pasien tersebut perempuan lohh.. hahaha. Eh, yang disana jangan cemburu ya! (Emang ada?)
                Begitulah hidup, pelajaran demi pelajaran akan selalu ada. Asal dikau bisa mengambil hikmahnya dan menyambut berkahnya. Kita senantiasa merasa kesuksesan, kesenangan, kebahagiaan pada diri kita sekarang adalah hasil jerih payah kita sendiri, tanpa pertolongan dari-Nya. Itulah mengapa kesenangan itu takkan bertahan lama. Karena, Allah ingin mengingatkan kita kembali akan kehadiran-Nya. Dia ingin kita dekat lagi dengan-Nya dan bukan termasuk orang-orang yang lalai. Allah berfirman:



“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. “ (QS Al Munafiqun: 9)

10/09/2017

Allah Tidak Bermaksud Jahat


Seperti halnya hujan
Kedatangannya selalu membuat kita berkata “ah”
Namun sesungguhnya ia menyuburkan dan menyejukkan
Sama halnya dengan api
Sering kedatangannya membuat mulut kita berteriak celaka
Namun apakah kita tahu
Kedatangannya membuat kayu menjadi abu yang manfaat

                
Segala apa yang diciptakan Allah, yang Dia turunkan ke alam ini adalah sebuah kebaikan dan kesempurnaan untuk kita. Tak ada maksud jahat dan buruk sedikitpun dari-Nya. Justru kebaikan yang tersembunyi, yang harusnya kita renungkan dan pikirkan sejenak.
                Dahulu, aku pernah mengalami masa-masa keputusasaan semenjak lulus SMA. Akan pedih rasanya ketika harapan yang membumbung tinggi harus dibinasakan dengan kenyataan. Kenyataan bahwa aku tidak bisa melanjutkan kuliah di kedokteran. Lama aku terbaring dalam sendu, lagu-lagu pengiring semangat nampak berirama mengiringi hari-hariku, sebutlah “Ya sudahlah..” dari bondan dkk, “Jauh mimpiku” Peterpan, “Dunia Yang Terlupa”, sampai “Lubang Hati..” nya letto. Yang bisa kulakukan hanyalah terus berjalan, life goes on.. aku harus tetap melangkah, karena jika terdiam, aku akan semakin tersesat dalam kenyataan.
                Apakah Allah bermaksud jahat kepadaku? Sempat terpikir hal buruk ini saat itu. Namun sesungguhnya, aku dibimbing untuk menangkap maksud kebaikan dari-Nya. Perjalanan hidup yang Allah berikan waktu itu sungguh merupakan hal-hal terindah untuk dikenang. Banyak hal yang telah mendewasakan diriku, setidaknya pemikiranku. Dipertemukan dengan saudara-saudara muslim sevisi, belajar dan berjuang bersama2 dalam dakwah, berguru dengan ulama-ulama mulia, menjalani kehidupan ala santri, dibimbing menuju hijrah suci. Bila mengingat masa lalu, momen2 selepas SMA tidak akan tergantikan. Bahkan, jika ditanya apa momentum terbaik yang berdampak dalam hidup hingga saat ini? Jawabku, ya, saat itu...
                Ujian itu menyadarkan kita agar bisa belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi. Manusia yang ingat bahwa segala yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah. Manusia yang mengetahui bahwa segala hal yang terjadi adalah kuasa-Nya dan hanya Dia yang tau rahasia-Nya. Maha Pemurah Allah, Dia selalu membimbing kita menuju ke arah yang lebih baik dengan cara-Nya. Dia tak ingin kita tergolong manusia-manusia yang tersesat dan merugi nantinya. Allah berfirman:


“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah2an. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. “ (QS Al-Baqarah: 155)

10/02/2017

Prolog: Ujian, Bukti Allah Mencintai mu..



“Sesungguhnya Allah SWT jika menyukai seorang hamba maka Dia mengujinya dan mengikatnya dengan ujian, seperti orang sakit yang mengikat keluarganya untuk tetap di sisinya..” (HR. Imam Ja’far Shadiq)
                Jika dikau memerhatikan bagaimana anak2 sakit, ia akan selalu minta ditemani oleh orang tua atau keluarganya. Ia manja, ingin diperhatikan, ia merengek, meminta kasih sayang. Sehingga orangtua yang biasanya sibuk bekerja, kini harus menyempatkan waktu banyak untuk menemaninya, agar dia bersemangat untuk sembuh.
                Begitu juga, terkadang Allah SWT memberikan ujian kepada kita, karena Dia ingin kita dekat dengan-Nya. Karena dengan ujian, kita senantiasa mengingat dan memohon pertolongan-Nya. Bukankah begitu sobat?
                Bukankah seringkali, ketika dalam situasi bahagia, tak ada tekanan maupun kesedihan, kita lupa akan kehadiran Allah SWT? Terlupa bahwa Dia menyaksikan, dan mendengar segala riuh suara batin kita. Dan bahkan, seringkali, hanya untuk sekedar menjawab panggilan-Nya (adzan) saja kita mengeluh karena telah mengusik kenyamanan waktu santai kita. Duhai sebaliknya, ketika dalam kondisi menyedihkan, terpuruk dan penuh tekanan, kita senantiasa bertiarap menengadah kepada-Nya. Seolah lupa, bahwa sedari dulu kita telah mencampakkan kehadiran dan panggilan-Nya. Kidung duka... Segitu lemahnya iman kita..
                Tak ubahnya kita, ketika kita mencintai seseorang, kita sering memberinya ujian dengan sengaja untuk mengukur seberapa besar kasih sayang dia kepada kita. (Perempuan sih biasanyaa..) Seberapa besar setianya kepada kita. Seberapa tulus rasa sayangnya (Euhh..) dan macam lainnya.
                Andaikan, kamu memberikan ujian berupa lost contact, kamu tidak ingin bicara lagi dengannya, you dont talk anymore... nahh.. mirip lagu itu lah. Selama beberapa hari atau minggu, akankah dia berpaling kepada yang lain. Ataukah dia setia menunggu dan menghubungimu lebih dulu. Semua akan terjawab lewat ujian ini.
                Seperti halnya Ibnu Hajar Al-Asqolany, jika dikau tau kisahnya. Begitu lelahnya ia diuji dengan kehilangan. Kehilangan orang tua terkasih hingga membuatnya susah berkonsentrasi dalam pelajaran. Namun, taqwa telah menggiringnya, keluar dari keputusasaan. Ia tau, bahwa yang ia perlukan hanya konsisten dalam ketetapan Allah SWT. Semakin banyak ujian yang menderanya, ia harus semakin dekat kepada Allah SWT. Di setiap ibadahnya, terselip doa pengharapan kepada Allah. Dan di setiap embusan nafasnya, tertiup kepasrahan & permintaan tolong kepada-Nya. Maka lahirlah, si “anak batu” lewat tetesan air yg tegar mengukir batu, siang dan malam mengalir bersama ketentuan Allah.
                Dan ingatlah kawan, ujian tidak hanya berwujud kesedihan yang meneteskan air mata, namun ia nya terkadang  berwujud kebahagiaan dan kabar gembira yang tak pernah kita duga. Hingga Allah SWT berfirman:

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata: ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.’ Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (QS Az-Zumar (39): 49))

12/29/2015

Ikatan Janji

            SMA (Sekolah Menengah Atas), seingat Fauzi umurnya saat itu menjelang 18 tahun. Bulan itu adalah bulan yang penuh berkah, bulan yang selalu ditunggu-tunggu umat muslim. Bulan ketika Al-Qur’an dulu diturunkan untuk insan yang terbaik akhlaknya dan malam seribu bulan dihadirkan kepada orang-orang pilihan-Nya. Bulan dimana dosa-dosa manusia terampuni bila ia sungguh bertaubat, dan semua amalan dijanjikan berlipat ganda nilainya. Maka semua manusia berlomba-lomba untuk mengejarnya, tanpa terabaikan pula Fauzi. Ia menantikannya dan sungguh merindukannya.
         Sebuah anugerah atau cobaan, di bulan itu cinta kembali hadir dan menyentuh selubung hati Fauzi. Cinta yang seperti cahaya, ditulis dengan tangan cahaya, terpatrikan diatas lembaran cahaya. Cahaya itu melenyapkan kabut memorinya tentang keraguan hati. Tatkala banyak wanita yang dapat meminjam hati pria, Ia tidak semurah itu. Hanya sedikit yang memilikinya, merekalah ibu dan keluarga terkasih kebanggaan. Namun di bulan itu, seorang wanita merenggutnya. Membuat hidup dan kesendirian Fauzi, penuh dengan ingatan. Sebuah ingatan tentang janji yang terikat. Janji yang mampu membiaskan impian dan harapan. Berkali-kali ia bertahan dan berusaha menjalaninya. Bahkan, bila ketidakberdayaan menghampiri, ia mencoba melawannya sepenuh hati.
          Ramadhan, kira-kira awal Oktober tahun 2010. Beberapa bulan setelah itu adalah akhir dari semester ganjil. Semester depannya merupakan tantangan yang paling mendebarkan dikalangan siswa SMA. Fauzi akan menghadapi ujian nasional dan ujian tulis penentu masa depan bangku perkuliahan, SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Sebelum akhir pekannya akan dipenuhi dengan “penganiayaan”, alias pengayaan belajar. Sebelum masa depannya akan dipertaruhkan dengan kerja keras dan do’a. Sebelum masa-masa itu, ia dan kawan-kawan rohis SMA-nya menghabiskan akhir bulan Ramadhan kali itu dengan kegiatan yang menarik dan penuh berkah. Tersebutlah “Pesantren Ramadhan Nasional”, momentum pertemuan Fauzi dengan wanita itu.
       Pesantren Ramadhan nasional adalah pesantren yang diadakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia tingkat pusat. Pesantren tersebut menghadirkan seluruh siswa yang terdaftar sebagai organisasi kerohanian Islam dari seluruh provinsi. Kebetulan saat itu sekolah Fauzi termasuk sekolah yang terpilih untuk mewakili Provinsi Kalimantan Selatan. Sedangkan, siswa rohis yang diminta untuk mengikuti kegiatan tersebut adalah siswa yang menjabat sebagai badan inti organisasi. Itulah ia, Razi, dan teman perempuannya (rohis akhwat).
           Penginapan mereka bertempat di salah satu asrama kampus Universitas Islam Negeri Malang. Kamar laki-laki dan perempuan letaknya terpisah. Waktu itu Fauzi sekamar dengan Razi, dan dua orang siswa asal Banjarbaru. Mereka pun saling berkenalan, bercengkrama dan bercerita tentang kesibukan sekolah juga kesehariannya. Layaknya anak burung yang baru lepas bebas menyaksikan keindahan langit dan ladang, percakapan hangat telah membuat mereka seolah terbang lapang dan menciptakan dekapan rasa kasih, persahabatan, dan angan-angan. Hanya dalam satu malam, pertemanan mereka berempat menjadi begitu dekat.
           Kegiatan para santri layaknya pada pesantren Ramadhan umumnya. Mereka semua diminta mengikuti seluruh rangkaian acara dari sahur bersama, shalat wajib berjama’ah, shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, diskusi kelompok, seminar, hingga kunjungan lapangan. Buka puasa bersama termasuk hal yang paling ditunggu oleh semua santri. Suasana kebersamaan yang menghebohkan dan sajian makanannya  yang berlimpah. Itu adalah pemuas dahaga paling nikmat dipuncak kelelahan dan hadiah kebaikan sunnah untuk puasa di bulan Ramadhan.       


             Fauzi adalah orang yang paling mengingat momen itu. Tepat saat waktu maghrib tiba, para santri bergegas menuju mushola. Di lorong jalan, matanya melirik ke arah dua orang yang berbincang pelan. Mata Fauzi yang rabun jauh membuatnya samar-samar terlihat.
         Satu detik selanjutnya, mereka berpapasan.  Ia lihat wajah seorang wanita yang bersinar, dan terlahirlah perasaan yang membuat sanubari bergetar. Raut wajah dan kecantikan paras wanita itu benar-benar membuatnya jatuh dalam lamunan.
     Wanita itu layaknya surya yang menuntun bayang-bayang pepohonan. Menyinari gelapnya pikiran Fauzi tentang wanita zaman sekarang. Seakan tidak percaya bila ada wanita seperti itu, ia dengan jilbab syar’inya membekukan langkah kaki Fauzi. Maka terbuktilah pepatah lama, “dari mata turun ke hati”. Dua insan telah dipertemukan untuk menemukan kebenaran tentang sudut lain dunia. Seseorang tidak bisa berucap, tetapi wanita itu memahaminya. Ia membalas Fauzi dengan senyuman. Sebentuk usapan kepada jiwa yang kosong. Sangat teduh, bahkan awan tidak seteduh tatapannya detik itu.
        Dalam sunyi, Fauzi mencoba bersuara lirih, “Assalamu’alaikum...”. Lalu wanita itu dengan lembut membalasnya, “Wa’alaikumussalam, dari Banjarmasin ya?”. “Eh, i..iya, dari Banjarmasin, kenapa?” ucap Fauzi kikuk. “Saya dari banjarbaru...” ungkapnya. Lalu wanita itu pergi dengan tawa yang manis bersama temannya. Fauzi tidak sempat mengucapkan beberapa patah kata lagi. Namun saat itu, jiwanya memahami arti dari frasa yang orang ucapkan selama ini, “lingkaran hati”. Sebuah siklus pertemuan rasa, bahkan tanpa harus mengungkapnya, ataupun mengenalnya. Fauzi tidak tau bagaimana mengatakannya. Meskipun ia memahami rasa itu, ia tidak akan mampu menggapai maknanya. Selamanya akan samar terbungkus oleh kata dan tidak akan bisa tertera dengan pena.
        Hal yang pertama kali dilakukan saat seseorang dalam suasana hati seperti itu tentulah mencari informasi yang akurat. Rasa penasaran menyelimuti benak pikirannya. Fauzi pun memberanikan diri untuk bertanya tentang wanita itu kepada santri lain, tentang nama lengkapnya, sekolahnya, dan dimana ia tinggal. Hingga tercukupilah segala hasrat dalam diri Fauzi setelah mengetahui dimana wanita itu berada. Sebuah SMA di kota Banjarbaru. SMA yang terkenal dengan nuansa agamanya, asramanya, biayanya yang cukup tinggi, dan betapa bahagianya dirinya saat mengetahui bahwa wanita itu masih “jomblo”.
           Rangkaian kegiatan pesantren Ramadhan terus berlanjut, seminar dan diskusi akbar yang bertemakan isu-isu keislaman termasuk dalam susunan acaranya. Di dalam auditorium, seluruh santri diminta untuk berdiskusi dan memaparkan hasil diskusinya. Saat itu, keheningan berubah menjadi suasana menakjubkan. Disaat seluruh santri mencoba untuk unjuk diri, wanita itu kembali muncul dengan indahnya. Kehadirannya sanggup mematahkan segala kesombongan santri lain. Dibalik keanggunannya, wanita itu sungguh cerdas. Ia dengan kemampuan bahasa Arabnya, tidak disangka membuat seluruh lelaki di auditorium tidak akan bisa memejamkan mata, sungguh memesona.
      Fauzi tau bahwa dirinya bukanlah satu-satunya pria yang menyukai wanita itu, dan benarlah kekhawatiran Fauzi dikala mengetahui kawan karibnya sendiri juga menyimpan rasa terhadap wanita itu. Kawan yang juga ikut andil dalam pertemuan rohis se-Indonesia itu. Maka dalam kesempatannya pula, pria yang akrab disapa Razi itu, mengeluarkan kemampuan diskusinya. Razi berdiskusi dengan wanita itu dengan penuh tawa, di hadapan seluruh penonton, dengan kemampuan bahasa Arab yang mereka miliki.
          Razi, kawan yang sebangku dengan Fauzi di kelas II SMA. Ia seorang siswa yang Fauzi acungi jempol dalam hal pengetahuan agama. Meski dalam nilai pelajaran, ia kalah bersaing dengan Fauzi. Bila membahas persoalan agama, Fauzi begitu menghormatinya. Maka layaknya Ali radhiyallaahu ’anhu, sahabat Rasulullah SAW yang mengalah memperjuangkan hati Fatimah disaat Abu Bakar Ash-Shiddiq mempersuntingnya, Fauzi pun ingin demikian. Ia lebih memilih memendam rasa dan mempersilakan. Memilih untuk berdiri tegar, ketimbang memutus tali persahabatan. Terpikir olehnya saat itu, “Allah menjagaku rupanya..”. Sehingga berlalulah masa-masa itu, Razi dan wanita itu semakin dekat. Sedangkan Fauzi kian menjauh dari kenyataan, tersudutkan dalam dunia khayalan. Mencoba terbangun dari mimpi buruk yang sangatlah sulit untuk dilupakan.
       Selang beberapa bulan, wanita itu menyapa Fauzi lewat pesan media sosial. Ia tersenyum sejenak, karena jauh dilubuk hatinya, masih terukir nama wanita itu. Ia menanyakan kabar Fauzi, bagaimana keadaannya, dan suasana sekolah yang mendekati ujian. Meski beberapa lama wanita itu menghilang keberadaannya, saat itu, Fauzi merasakan kehadirannya. Percakapan kedua insan ini kian memanjang, bahkan dalam dunia fatamorgana, pertemuan hati yang lama tidak berjumpa akan selalu menyenangkan. Fauzi mencari cara untuk menanyakan hubungan wanita itu dengan Razi. Lalu, lenyaplah kemelut jiwanya waktu wanita itu menuliskan, “Kami gak ada apa-apa, cuma temenan :)..”.
        Dalam hidup setiap anak muda, tentulah akan muncul cinta hakikinya, yang akan membawa hari-harinya kedalam musim semi penuh warna. Dalam relung pikiran Fauzi, ada banyak memori yang membekas tentang sosok wanita itu. Keindahan matanya, harum nafasnya, lembut tutur katanya, menunjukkan kepada diri Fauzi bahwa inilah bentuk keajaiban ciptaan. Kepribadiannya seperti mampu mengubah dunia yang begitu hampa. Karena dirinya, Fauzi telah memahami sebuah bentuk kerinduan. Bukanlah cantiknya yang Fauzi nanti, bukan pula senyumannya yang meluluhkan hati, tetapi ketulusan hatinya yang begitu memberi arti.
             Hari itu, Fauzi tidak akan pernah melupakannya. Hari dimana kedua jiwa disatukan dalam ikatan janji. Fauzi dan wanita itu sama-sama diam menunggu yang lain untuk berbicara. Namun, bicara bukanlah satu-satunya cara untuk saling mengerti. Bukan hanya kata-kata yang keluar dari bibir dan lidah yang bisa menyatukan nurani. Keheningan menerangi jiwa mereka, bersama tiupan daun yang mengalir lembut, membawa ungkapan kata terasa diujung mata. Fauzi memberanikan diri dan bertanya, “Kalau sudah lulus SMA, kamu mau melanjutkan kemana?”
     

         Wanita itu menghadap ke langit, lalu ia bilang, “Aku tidak tau zi, selama ini kubiarkan hidupku mengalir seperti air, biarlah takdir membawa asa dan citaku dalam pilihan yang terbaik, kalau kamu mau kemana?”. Fauzi terdiam sejenak. Kata-kata yang diucapkan wanita itu telah memenjarakan angannya ditengah masa lalu dan masa depan. Seperti sebuah kapal yang menempatkan jangkarnya di tengah lautan. Kata-kata itu membangunkan tidur keremajaan Fauzi, dan menempatkan posisinya kelak di panggung dunia yang penuh pilihan.
            
             Fauzi tau bahwa wanita itu punya banyak talenta, meskipun ragu, Fauzi ingin membuat wanita itu tidak bias terhadap harapan. Fauzi berkata, “Jika seperti itu, kamu akan bimbang dengan cita-citamu, kamu harus memilih, seperti aku, aku punya keinginan untuk menjadi dokter”. Wanita itu tersenyum, “Begitukah? kalau gitu, aku juga mau jadi dokter, hihihi…” ucapnya lembut. “Loh, kok bisa? cepet banget mutusinnya?” Fauzi menertawakan kepolosan wanita itu. Meski begitu polos, ia benar-benar menyukai wanita itu. Tidak pernah sedikitpun ia menyombongkan diri di hadapan Fauzi. Untuk seseorang yang dipenuhi banyak talenta, Fauzi bukanlah apa-apa dibanding dirinya.
            Dua bulan berlalu, ujian nasional SMA begitu menegangkan, tidak sedikitpun Fauzi bergeming dalam kerja keras untuk mendapatkan hasil yang terbaik dengan jujur dan tawakkal kepada Allah SWT. Lama tidak terhubung, wanita itu mengabarkan berita dengan penuh gembira. Ia berkata kepada Fauzi, bahwa ia mendapat beasiswa dari Departemen Agama kota Banjarbaru untuk kuliah pendidikan dokter di salah satu universitas negeri pulau Jawa. “Aku pasti menyusulmu..” ucap Fauzi yakin. Hari itu, Fauzi berjanji dengan dirinya sendiri dan wanita itu bahwa ia akan lulus SNMPTN. Lalu, menggapai harapannya, untuk menjadi dokter.
      11 Mei 2011, Fauzi mengikuti seleksi tahap awal dalam SNMPTN. Pada lembaran kertasnya tertulis pilihan universitas yang ingin dimasuki. Dengan hikmatnya, Fauzi centang Fakultas Kedokteran di universitas wanita itu berada. Program Studi Pendidikan Dokter, Universitas Lambung Mangkurat di pilihan kedua, dan Program Studi Kesehatan Masyarakat di pilihan ketiga. Ujian pun berlangsung sangat ketat. Fokusnya tiada teralihkan meski harus berhadapan dengan ribuan pesaing lain.
           30 Juni 2011, tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Pengumuman hasil seleksi SNMPTN diberitahukan sore harinya lewat website dan media massa. Hari itu, hari yang kejam untuk seorang pemimpi seperti Fauzi. Ia harus menerima kenyataan bahwa harapan dan angannya telah sirna. Fauzi tidak mampu melihat apapun selain ruang kosong yang hampa dan tidak mendengar apapun kecuali teriakan kidung derita. Ketika mimpi-mimpi yang begitu indah telah terpenjara, kesedihan mulai datang menghampirinya.
       Kesedihan yang mengganjal hati Fauzi semakin dalam seiring bergulirnya hari. Kesedihan itu datang bukan karena ia tidak memperoleh hiburan. Jika karena itu, tentulah ia sangat mudah mendapatkannya. Kesedihan itu juga bukan lantaran ia kesepian, karena ia masih memiliki orang tua dan teman. Kesedihan itu disebabkan oleh suatu keputusasaan karena tidak mampu memenuhi permintaan dan janji. Keputusasaan yang membuat dirinya lari dari keramaian dan hiburan. Keputusasaan yang membuat diri Fauzi menghindari wanita itu dan keberadaannya. Keputusasaan itu kian menenggelamkan hari-harinya dalam samudera lautan yang suram. Lalu, berharap ada yang menolongnya untuk menemukan sebuah jalan keluar, dan membuatnya terlahir kembali dengan jiwa yang tegar.
        Menghadapi masa kelam, andaikan wanita itu datang menemani, mungkin kesedihannya tidak akan berarti. Saat itu, Fauzi tidak tau kebenaran apa yang akan ia pilih, dan jalan apa yang ingin ia tempuh. Fauzi hilang arah tanpa kehadiran wanita itu. Dalam gelapnya malam hari, ia berharap wanita itulah yang akan membimbing langkah kedua kakinya.
              Fauzi tau frekuensi kehidupannya dengan wanita itu tidak akan sama lagi. Wanita itu akan terus melangkah dengan kehidupan dunia medis dan segala kesibukannya. Sementara Fauzi, masih terpuruk dan teraniaya oleh rasa sakit yang mendalam. Hubungan mereka telah terputus akibat kelemahan dan keegoisan Fauzi. Meskipun begitu, Fauzi tidak bisa menyembunyikan bahwa ia dan nafasnya masih merindukan wanita itu.
            Bulan-bulan berlalu, Fauzi telah mampu membuka mata dan melihat dunia. Ia tidak ingin menyesali semua kejadian yang terjadi. Namun, ia menyadari masih ada kekosongan dalam hati. Ia berusaha mencari sesuatu yang mampu mengisi kekosongan itu, dan menemukan jawabannya dalam sanubari yang terdalam. Awalnya ia mengira hanya wanita itulah pelengkap kekosongan tersebut, tetapi ia memahami bahwa bukan itulah yang sedang terjadi. Oleh karenanya, ia tetap melanjutkan perjalanan panjang dalam pencarian itu, dan tidak ingin berhenti hingga Fauzi mengetahuinya.
            Setelah sekian lama, hati Fauzi semakin mengerti akan arti kehidupan. Fauzi telah menerima sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Sebuah harapan dalam setitik iman. Demi sebuah cinta ataukah cita, ia memberanikan diri untuk beranjak dari kelamnya masa yang sirna. Telah ia dapati semua teman yang membimbingnya menuju cahaya. Untuk sebuah keteduhan hati, dan untuk bisa mengubur kedalaman emosi, Fauzi tidak ingin kehilangan arah lagi. Meskipun hanya sebuah harapan yang tidak mungkin berdalih, lembaran baru telah ia pilih. Meskipun di sela waktu, kadang ia terpuruk jatuh. Beban itu kian membawanya terbang menuju dunia yang penuh rasa dan suasana. Semua tentang wanita itu, semua tentang Fauzi, kini tinggal sejauh mimpi.
           Kenangan itu, hanya sebuah bentuk memori pertemuan. Kehampaan telah melahirkan nuansa kebebasan. Lama Fauzi terbaring dalam kabut awan, terdiam, juga tidak sadar akan pergantian siang dan malam. Lalu mentari menariknya, membangkitkannya untuk tetap berjalan ke depan. Sedangkan, sang Pencipta, Yang Memberikan Pelita telah membuat Fauzi menyanyi bersama hari, bermimpi dan berdo’a sepanjang malam. Keajaiban itu, teka-teki itu, telah membentuk dirinya, juga mendewasakan hidupnya. Maka ia tetap berdiri tegak, berjalan mantap menuju sebuah pilihan. Menyusuri tepian hidup dengan sandaran hati, Allah dan Rasul-Nya serta keluarganya.

6/19/2015

Seperti mesin waktu...

Agaknya lebih greget & berbeda, disaat semua orang mengucap maaf & ampun kuputuskan membuat sebuah tulisan. Sebuah tulisan sederhana, yang kubuat tiap awal ramadhan. Tujuannya tidak muluk2. Sekedar ingin mengingatkan siapa diri ini dan apa yang telah ia lakukan. Jika kita buka album lama, kita menatap sejumlah memori silam. Beberapa melekat dalam pikiran, jauh dalam lubuk hati. Yang memberi luka biasanya tidak dilihat berlama2. Bahkan, kadang kita ingin membuangnya jauh2. Nah, sama halnya dengan tulisan ini. Aku terkadang membuat tulisan agar kenanganku tidak hilang. Yah.. siapa tau suatu saat aku amnesia, atau demensia, tulisan ini kembali mengingatkan masa lampau. Seperti mesin waktu, “alat untuk kembali ke masa lalu adalah kenangan, sedangkan alat untuk menuju masa depan ialah impian” begitu kutipan dari sebuah film yang pernah kutonton.

Selain itu, aku bukanlah orang yang sering berfoto bersama dalam setiap event ataupun momen penting. Kadang bahkan, tidak terlalu suka. Terlalu alay menurutku bila berlebihan atau karena memang sengaja tak diajak -_-. Dalam tulisan ini sebetulnya aku cuma ingin melihat potret lamaku. Siapa tau masih ada kisah dibalik peristiwa, yang nantinya akan kutemukan jawabnya di masa depan. Jika kisahku membuat kawan2 terganggu, aku memohon maaf, akupun tidak bermaksud mengajari, atau berharap kisahku bisa menginspirasi, aku tidak mempunyai potensi untuk itu. Yang kuinginkan dalam membaca sebuah tulisan tidak lain adalah untuk menumbuhkan hasrat. Hasrat untuk berubah menjadi lebih baik tentunya.

Tahun lalu adalah tahun yang cukup berat bagiku. Seperti dalam tulisanku sebelumnya, jika kawan2 baca. Ayahku didiagnosis menderita kanker nasofaring dan diharuskan menjalani kemoterapi. Beberapa bulan menjalani pengobatan, dan sempat terkena stroke iskemik juga. Aku dan ibunda diharuskan untuk bertahan dari sedikit ujian harta, jiwa, dan ketakutan. Tak tahan rasanya menyaksikan ayahanda dan ibunda tercinta menderita. Maka aku mulai kehilangan arah, hidupku mulai gelap. Kutinggalkan semua rutinitasku: Organisasi, dakwah, ma’had, mengajar & belajar, aikido. Kufokuskan sisa2 waktuku untuk mengabdi kepada ayahanda dan ibunda. Aku tak bermaksud memuja2 diriku untuk pengorbanan itu. Karena memang itulah yang seharusnya dilakukan setiap anak untuk membalas jasa2 orangtuanya.

Alhamdulillah.. kami sekeluarga berhasil melewatinya. Segala puji bagi Allah yang telah menguatkan kami. Memberikan segala petunjuknya bagi kami. Sekarang kondisi ayah kembali optimal,  dan semoga saja tetap sehat selalu. Kankernya untuk sementara ini tidak metastasis, bahkan cenderung mengecil. Hipertensi dan DM tipe II Ibu pun sekarang sudah terkontrol dengan baik. Tekanan darah dan GDP nya sudah dalam kisaran normal. Mereka sudah mau cek up rutin ke laboratium, dan terakhir kali hasil labnya menunjukkan kimia Ginjal (Ureum - kreatinin), hati (SGOT - SGPT), GDP, dan kolesterol normal. Subhanallah, nampaknya ilmu kedokteran yang kupelajari betul2 bermanfaat. Setidaknya untuk menjaga keluargaku sendiri. Semoga Allah selalu menjaga ayahanda dan ibunda.

Aku sekarang berada di blok kedokteran komunitas. Beberapa blok lagi sebelum aku menjalani koass, insya Allah di bulan desember. Berada di blok ini membuatku mengenang masa2 ku di kesehatan masyarakat dulu. Ilmunya betul2 bermanfaat, bahkan aku menjadi menyukainya, membuatku berminat untuk S2 dijurusan itu. Namun, bukan cuma itu saja yang kudapat dulu. Saat di kesehatan masyarakat aku banyak belajar tentang kehidupan. Bagaimana menjalaninya & bertahan dengannya. Entahlah, mungkin saja aku memang ditakdirkan untuk itu.

Bertemu dengan para sahabat, adik2, tokoh2 luar biasa yang menginspirasi. Inspirasiku memang cukup unik, aku tak mendapat banyak dari tokoh2 hebat atau disebut2 “sukses” oleh kebanyakan orang. Bagiku orang2 terdekatlah yang bisa membuat kita belajar banyak, mendatangkan inspirasi tiada henti. Ketimbang motivator yang tak kita kenal, yang belum tentu mengamalkan motivasinya. Orang yang sudah memilih jalan hidupnya & berhasil bangkit dari keterpurukan adalah jiwa2 yang akan tegar menjalani pahitnya hidup ini  dan dari merekalah muncul generasi2 emas. Yang bangga dan tidak tunduk pada kekalahan. Serta rendah hati dan penyantun dalam kemenangan. Mereka tau, setiap diri mempunyai potensi masing2. Tidak semua hal bisa dipaksakan dalam satu tubuh, berusaha mengubah sesuatu yang sudah ditakdirkan hanya akan menumbuhkan kekecewaan. Mereka, tau itu.

Oh ya, aku juga sudah maju sidang dua hari yang lalu. Tinggal beberapa tahap lagi aku lulus sarjana. Kusadari ilmu kedokteranku masih belum seberapa, nampaknya masih banyak PR yang harus kukejar. Semoga saja kedepannya segala urusannya dimudahkan.

Urusan dakwah, kian meyakinkan bahwa inilah ketetapan Allah untukku. Berkali2 rasanya aku ingin berlari, ingin bebas, sebab tak kuat kutanggung beban urusan ini. Namun Allah selalu menarikku kembali, membantuku berdiri kuat dan tidak jatuh sedalam2nya. Mungkin saja, potensiku memang dibidang itu. Seperti yang kubilang di masa lalu. Cuma ada 2 hal yang membuat hidupku lebih berharga: dakwah & profesi dokter. Meskipun intensitasku tahun ini tak segiat dulu, Alhamdulillah masih diberikan kesempatan untuk berbagi.

Oh ya, sekarang kupahami bahwa ada tiga tipe seorang da’i dalam berdakwah. Tipe 1: Ia berdakwah tujuannya cuma untuk eksistensi diri. Ia sekedar ingin membuktikan kemampuannya kepada sesamanya atau lawan jenisnya. Kadang bahkan cuma ingin mengejar popularitas, biar banyak yang suka dan dianggap mulia. Oleh karenanya, tipe seperti ini biasanya tak akan bertahan lama dalam urusan dakwah. Jiwanya labil, kekanak2an, dan tidak siap menanggung beban. Seleksi alam pasti akan menimpanya.

Tipe 2: Ia berdakwah karena merasa itulah tujuan hidup. Ia sangat bersemangat menyelaminya, karena ia merasa dakwah adalah bagian hidupnya. Tanpa dakwah, hidupnya sepi, tanpa dakwah jantungnya seakan berhenti. Makanya, ia serius belajar, ia serius memperbaiki diri. Tetapi masih ada hal yang kurang darinya. Ia tidak benar2 memikirkan umat, yang ia lakukan sebatas kepentingan diri, menunaikan kewajiban atau organisasi.

Tipe 3: Ia berdakwah karena umat, nuraninya murni & suci memikirkan kebaikan umat. Harta, jiwa, dan raga ia persembahkan untuk Islam, ikhlas dalam dakwah, istiqomah mengajari sesama. Aku sangat jarang bertemu tipe 3. Kebanyakan tipe 1 & 2. Bilapun ada yg berkoar2 rela berkorban untuk umat, atau berempati karenanya, mereka cuma sekedar mengatakan yang memang perlu dikatakan, bukan? buktinya, tak sedikitpun saat mereka berkata peduli, mereka berani berkorban dengan serius.  Ketahuilah, seseorang yg dipedulikan oleh sesamanya akan ikut merasakan kepedulian tersebut. Itu seperti ikatan batin yg sulit dijelaskan. Da’i tipe 3 memancarkan aura tersendiri. Benar2 karismatik.

Akan kusebut contohnya, K.H. Zaini Abdul Ghani, apa kamu kenal? Beliau menurutku da’i tipe 3 yg betul2 mempersembahkan hidupnya untuk umat. Saat kecil, aku bersama ayahanda setiap hari minggu sering ke pengajian beliau. Jama’ahnya bisa sampai ratusan bahkan ribuan, dan setiap kalinya para jama’ah tersebut pulang membawa makanan yg dibagi2 gratis waktu itu. Dan kamu tau dananya dari siapa? Dari beliau pribadi. Di akhir2 hidupnya, beliau menderita gagal ginjal, dan diharuskan menjalani hemodialisa yang rutin. Kita semua tau, seberapa sakit dan menderitanya pengguna hemodialisa. Seharusnya aktivitas beliau dikurangi dan mendapatkan istirahat yg cukup. Dan apa yg beliau lakukan? Tetap istiqomah melaksanakan pengajian, bahkan lebih giat lagi. Jadi sudah sewajarnya, kebanyakan rakyat banjar tak pernah lupa jasa2 beliau. Meski kadang berlebihan. Semua tau itu.

Urusan cinta, ah.. aku tak berani bicara banyak. Hanya khayalan rasa bukan? sebuah ungkapan ataupun frasa yg bahkan definisinya pun kita tak tau. Cuma pernikahan yg bisa membuktikannya. Bukan permainan “sayang2an” ala anak muda, juga “friendzone” nya ala mahasiswa. Tak serius, buang2 waktu, meninggalkan luka dan kebencian. Satu hal yg ingin kuungkapkan disini. Sebetulnya sudah lama ingin kutuliskan ini. -Aku selalu paham dengan kode2 itu-. Hanya saja, kubiarkan diriku berlagak tak mengerti. Berpura2 tak terjadi apa2, meski aku menyadarinya. Kupikir ada baiknya juga terlihat bodoh & polos. Membuat diri ini terjaga dan berhati2 dlm melangkah. Aku belum ingin menikah, mungkin akan lama, dan banyak pertimbangannya. Namun khitbah? itu tindakan seorang pengecut pikirku. Menggantungkan pilihan wanita yg belum tentu kita serius dengannya. Mengapa tidak kita biarkan saja Allah mempertontonkan kuasa-Nya. Bukankah akan lebih menarik jika Q.S An-Nur: 26 itu menjadi kisah tersendiri dalam hidup kita?

“Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia. Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifan, kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah. Maka cita2 itupun agak kupersempit, kuputuskan utk hanya mengubah negeriku. Namun tampaknya, hasrat itu pun tiada hasil. Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yg masih tersisa, kuputuskan utk mengubah keluargaku, org2 yg paling dekat denganku. Tetapi celakanya, mereka sudah tdk mau diubah. Dan kini, sementara aku berbaring saat ajal menjelang, tiba2 kusadari. Andaikan yg pertama2 kuubah adl diriku. Maka dgn menjadikan diriku sbg anutan, mungkin aku bisa mengubah keluargaku. Lalu berkat inspirasi & dorongan mereka, bs jd akupun mampu memperbaiki negeriku. Kemudian, siapa tahu, aku bahkan bisa mengubah dunia.” Begitu ungkapan favoritku dari buku “Playing God” karangannya Rully Roesli. Untuk sekaligus, sebagai penutup tulisan ini. Salah khilaf mohon maaf. Dariku yg penuh kekurangan dan penuh kefakiran.


Malam kamis, H-1 Ramadhan 1436 H.

10/24/2014

Nutrisi untuk kesehatan pencernaan anda...



Umpat promosi produk herbal, semoga bermanfaat utk kesehatan pencernaan kekawanan, yg tiap hari selalu makan, dan belum tentu makan yg aman
HDI Clover Honey adalah produk High-Desert yang mengandung madu murni dan diolah secara alami sehingga dapat memberikan manfaat optimal bagi kesehatan.

HDI Clover Honey memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan yang telah dibuktikan secara ilmiah. Manfaat-manfaat itu adalah:
Membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan, seperti:
-Mengatasi konstipasi/sembelit.
-Membantu mengatasi luka (tukak) pada lambung.
-Meningkatkan penyerapan nutrisi, salah satunya kalsium.
-Menjaga keseimbangan bakteri menguntungkan dan menghambat bakteri merugikan yang dapat menyebabkan tukak lambung.
-Sebagai sumber energi yang baik. HDI Clover Honey mengandung fruktosa dan glukosa yang mudah diubah tubuh menjadi energi.
-Sebagai pengganti gula yang aman sehingga baik bagi penderita diabetes. Pengaruh HDI Clover Honey terhadap kenaikan gula darah relatif lebih rendah dibandingkan gula biasa.
-Memiliki sifat mukolitik (mengencerkan dahak) sehingga baik untuk sistem pernafasan.
Membantu menyembuhkan luka berair atau bernanah karena HDI Clover Honey memiliki sifat higroskopis (menarik air).

HDI clover honey (produk diatas) bukan sembarang madu biasa, telah saya buktikan sendiri khasiatnya, dan telah saya teliti bukti2 keilmiahannya
Banyak jurnal2 ilmiah yg menyatakan khasiatnya, dan banyak pengakuan dari para dokter terhadap khasiatnya, bahkan tiga generasi presiden AS (sejak Nancy reagan-Bill Clinton) memakai produk ini setiap hari, silahkan dicek


*) Basil C Nzeako and Faiza Al-Namaani. The Antibacterial Activity of Honey on Helicobacter Pylori. Sultan Qaboos Univ Med J. Dec 2006; 6(2): 71–76.. Penelitian ini menunjukkan kemampuan produk ini dlm mengatasi H. Pylori penyebab tukak lambung. Keluarga saya kemaren nyeri ulu hati setelah makan gangan asam, lalu saya minumkan, beberapa jam, nyerinya hilang.

*) Ladas SD, Raptis SA. Honey, fructose absorption, and the laxative effect. Nutrition. 1999 Jul-Aug;15(7-8):591-2. Coba baca, madu dlm halnya produk diatas mampu mengatasi konstipasi karena efect laksatifnya. Serius, saya buktikan sendiri, pas susah BAB, minum, langsung lancar, bujurann..

*) Kajiwara S1, Gandhi H, Ustunol Z. Effect of honey on the growth of and acid production by human intestinal Bifidobacterium spp.: an in vitro comparison with commercial oligosaccharides and inulin. J Food Prot. 2002 Jan;65(1):214-8. Jurnal ini menjelaskan manfaat madu dlm meningkatkan bakteri bifido, yg sangat penting dlm menjaga kesehatan pencernaan

*) dan aman bg penderita diabetes sebagai pengganti gula minuman ---> Akhtar MS, Khan MS. Glycaemic responses to three different honeys given to normal and alloxan-diabetic rabbits. J Pak Med Assoc. 1989 Apr;39(4):107-13.
Misalnya madu biasa kd bakalan bisa seperti itu, HDI Clover honey ini berasal dr bunga clover yg dinyatakan sebagai madu terbaik oleh peternah lebah sedunia. Rasa enak dan teksturnya memang beda
Oh ya, produk lain jg ada, buat kecantikan, keremajaan kulit, anti aging, imunitas dll. Sama, dr produk perlebahan juga. Dan yg terakhir, inilah dalilnya , " Dari perut lebah itu keluar minuman yg bermacam2 warnanya, didalamnya terdapat obat yg menyembuhkan bg manusia. Sesungguhnya pd demikian itu benar2 terdapat tanda bg org2 yg memikirkannya" (An-Nahl ayat 69)
nah, jd, misalnya ada kekawanan/keluarga yg bermasalah dgn kesehatan pencernaan bs membeli produk ini dgn saya. Harganya Rp 232.000. Beratnya satu toples 0,5 kg. Semoga sehat. CP: 087814730748 (Nizar)
silahkan lihat di youtube https://www.youtube.com/watch?v=a8oPd-ytOIQ oleh Guru besar Farmakologi USU . Prof. DR. Aznan Lelo, Ph.D, Sp.FK
  

9/11/2014

Struktur Asisten Dosen Fisiologi FK UNLAM 2014/2015

Selamat kepada teman2 2013 yang baru bergabung, berdasarkan hasil rekomendasi dokter penanggung jawab Fisiologi FK UNLAM di bawah ini langsung saja akan saya cantumkan nama2 yg terpilih (cuma 5 org) dan tugas2 kalian selanjutnya (beserta kawan2 asisten lain jg). Mohon jangan bersedih hati bg yang tdk terpilih, masih banyak kesempatan ngasdos di bagian lain pd semester selanjutnya. *Oh iya, sebelumnya, mohon jgn suudzan kpd saya, hhe, saya sengaja bikin pengumuman di sini soalnya bingung mau ngasih info lewat mana 

Bismillah..

Koordinator Asisten Dosen Fisiologi: Muhammad Nizar
Sekretaris: Merlina PSPD 2013
Bendahara: Tamara PSPD 2013

PJ Asistensi (Senin ini, 15 September) & siklus perpindahan asdos/blok : Rizki Pratama PSPD 2013
PJ Laporan (Senin ini, 15 September): Dewi Anggini PSPD 2013
PJ Perlengkapan & Ruangan : Gusti Andhika PSPD 2013

PJ Pretest Postest Blok Respirasi : Nina Hartati
Anngota: , Sekar

PJ Pretest Postest Blok Kardio: Amal
Anggota: Alifatin

PJ Pretest Postest Blok Muskuloskeletal : Fransisca Anggraini
Anggota:    Annisa Utami 

PJ Pretest Postest Blok Neurosensris: Julia Kasab

PJ Praktikum Akbid: Denni Indra Maulana

PJ Praktikum PSKG: Hendi Saputra

*Beberapa tugas masih saya pikirkan. Besok Jum'at 12 September kita rapat koordinasi. Tunggu sms dari saya, dan utk PSPD 2013 yg baru direkrut mohon kirimkan ID line kalian (jika punya, klo belum segera bikin) ke nomor saya sekarang jg. Untuk sekretaris copas dan simpan artikel ini, bw besok pas rapat.

9/09/2014

Formulir Asisten Dosen Fisiologi

Formulir asdos fisio 2015/2016 bs dikumpulkan hr Sabtu, 19 September  2015 dengan saya atau  asdos fisio lain (konfirm dlu ke saya) atau jika tdk ketemu kirim ke e-mail wannafree14@yahoo.co.id maksimal jam 9 malam. Tentu saja, Fisio tdk menerima percabangan asdos, jika sdh diterima di bagian lain kami tdk toleransi untuk merekrut. 2 Minggu lagi sudah asistensi, jadi seleksinya minggu depan, insya Allah.

*Fotocopy transkrip akademik jika tdk ada bs diganti dgn melampirkan fotocopy KHS semester 1 & 2. Jika kirim via email, tolong di scan/di capture dgn jelas.

Seleksi: wawancara, tes tertulis/lisan (wawasan fisiologi)

Pertanyaan? 087814730748 (Nizar), lbh bagus lg via WA/LINE.