About this blog..

Total Tayangan Halaman

Menu

12/21/2011

Kaidah 'Daripada' membuatku MUAKK..

Kaidah 'Daripada' membuatku MUAKK..

     Oke, kusadari.. mungkin memang terlihat kasar dari judulnya.. tapi aku memang benar-benar ‘geregetan’ ketika banyak sekali permasalahan umat sekarang yang sumbernya berasal dari kaidah ini. Bahkan permasalahan yang menimpa kawan-kawan seperjuangan dalam medan dakwahku pun (*khususnya X-MEN) sedikit banyaknya karena alasan ini juga.
     Nah.. aku disini ingin share saja kepada kawan-kawan semua tentang kasus yang menimpaku dan teman-temanku, mohon masukannya jika terdapat kesalahan dalam tulisannya (yah.. sebenarnya ini bisa juga disebut sebagai kritikan dan opiniku), dan anggaplah aku disini sebagai hamba Allah yang sedang ‘Galau’ gara-gara memperhatikan permasalahan umat yang sangat kompleks dan membutuhkan solusi tepat juga segera, bukan seseorang yang sedang mengagung-agungkan haraqahnya. Mari kita bahas semuanya disini secara gamblang. Dan inilah beberapa kasus yang akan kulemparkan pada kalian:

·      “kenapa temanmu dibiarkan saja auratnya terbuka? tidak dinasehatin ya?” jawab: “yah… ‘daripada’ dia nanti tidak bisa didakwahin lagi, lebih baik secara perlahan..”
·      “Bilangin tuh binaanmu, koq dia masih pacaran, kemarin ketangkap basah sedang dibonceng orang” jawab: “gimana ya.. ‘daripada’ dia nanti nganggap Islam itu terlalu keras nanti malah dia lari dari dakwah”
·      “Kemarin koq malah ikut-ikutan malam diesna? Padahal kan malam itu malam tahun baru Islam, seharusnya malam itu dijadikan tolak ukur seberapa besar peningkatan ibadah kita ditahun-tahun sebelumnya, ibadah kita harus ditingkatkan, muhasabah diri juga harusnya dimaksimalkan.” jawab: “aku ikut malam diesna agar bisa mengontrol adik-adik binaanku, yah.. ‘daripada’ mereka lepas kendali nanti, lebih baik aku ikut membaur”, “Gimana acaranya? Rame?” jawab: “Rame banget..”. jyahhhh….gedubrak!
·      “Gimana menurutmu tentang strategi dakwah kita kedepan? Apakah kita sebaiknya memasukkan diri ikut membaur ke dalam sistem?” jawab: “Hmm.. Sebenarnya bagus juga usulan seperti itu, tapi resikonya ketika kita berada dalam sistem kita juga mempunyai amanah dalam sistem tersebut, dan jika amanah tersebut bertentangan dengan syari’at gimana?” “Ya… itu resiko, otomatis kita pasti akan terwarnai” jawab: Jyaaahh! Ga banget deh..
·      “Aqidah dan akhlak itu harus diutamakan, karena jika kita melihat kondisi umat sekarang aqidah dan akhlaknya benar-benar bobrok” jawab: “Lalu bagaimana dengan syari’ah dan khilafah? Apakah akan kita hiraukan begitu saja”, “Ya.. pokoknya kita fokus aja dulu dengan pembentukan aqidah dan akhlak umat, kan khilafah itu sudah pasti akan berdiri juga toh.. firman Allah kan sudah pasti akan terwujud, ya.. alangkah lebih baiknya kita mempersiapkan moral individunya saja.. ‘daripada’ kita gencar-gencarnya memperjuangkan khilafah dan malah banyak yang lari, lebih baik kita secara halus tapi tersirat”
·      “Demokrasi itu indah.. Benar-benar muantepp..” jawab: “Serius lo?? Jelas-jelas itu melanggar syari’at jika yang kita rundingkan itu sesuatu yang haram” “Tapi jika suara kaum muslimin banyak kita bisa sedikit demi sedikit mempenetrasikan ide”,  jawab : “Seandainya sedikit? hayoo..”, “Ya.. ini sudah realita bung,, kita tidak bisa menampikkan bahwa sistem di negara kita seperti ini..”
·      “Kita tidak bisa menyanggah bahwa lokalisasi merupakan salah satu investasi pemerintah. Yah.. saran bapak sih kepada kalian sebagai seorang tenaga kesehatan agar tetap mengusahakan lokalisasi tetap terbuka dan memperjuangkan usulan kondom gratis saja, ‘daripada’ surveilens kita nanti menjadi susah akibat lokalisasi ditutup, lebih baik kita mencegah penularan penyakit dengan pemberian kondom” kata salah seorang pakar usai kuliah pakar kami tentang HIV AIDS.
·       “Teman-temanmu banyak yang labil tuh, khususnya dalam masalah interaksi ikhwan dan akhwat..” jawab: “Oh gitu.. nanti deh kudiskusikan dengan Bosku..”

daaan.. masih banyak lagi kasus-kasus yang membuatku geregetan belakangan ini, sehingga mutala’ah beberapa buku, file-file, film yang berkaitan dengan penerapan Islam pun gencar kupelajari.

     Kalau ditanyakan kepadaku nih.., kaidah apa yang paling populer dalam era kaum Muslimin sekarang???  jawabannya adalah kaidah ‘daripada’. “Dari pada sistem yang kita pakai otoriter, lebih baik demokrasi”, “Daripada yang kita pilih capres A yang sekuler, lebih baik capres B yang sekulernya lebih sedikit”,  “Daripada mereka tidak bisa dinasehatin dari luar, lebih baik kita ikut membaur”,  “Daripada berada diluar sistem itu dan tidak bisa berbuat apa-apa, kan lebih baik kita ikut kedalam sistem”, daaan… seterusnya. Kaidah ‘daripada’ ini sebenarnya merupakan cerminan dari sikap pragmatis dari kaum Muslimin saat ini.

     Iya.. pragmatis.. atau yang biasa kita sebut sebagai “tunduk pada realita/kenyataan”
Mengapa kusebut pragmatis? Coba liat.. Seakan-akan mereka berpendapat bahwa realita kehidupan tidak bisa dirubah. Doktrin-doktrin seperti, “kenyataan itu tidak bisa dirubah”, atau “negara ini sudah mencapai finalnya” terus-terusan ditanamkan di benak kaum Muslimin hingga kita putus asa. Pernyataan bahwa, “Sistem Khilafah memang ideal, tetapi itu kan utopis,” yang sering kita dengar merupakan cerminan sikap putus asa ini.

Bahkan sampai ada yang berpendapat “biarlah Kekhilafahan itu terbentuk dengan sendirinya, toh janji Allah sudah lama terpatrikan.. hadapi realita”. Jika seperti itu, mungkin dulu Rasulullah masih berselimut dalam rumahnya, dan membiarkan Jibril berkata-kata hingga bantuan dari Allah datang. Buat apa Rasulullah ‘berjuang keras’ hingga Islam itu sampai ditangan kita saat ini? Buat apa Muhammad Al Fatih dengan gencarnya melatih dirinya sejak kecil untuk menjadi penakluk Konstantinopel padahal Rasulullah sudah menjanjikan bahwa kota tersebut toh memang nantinya akan ditaklukkan kaum muslimin juga?

Tentu tidak benar!! jika dikatakan bahwa sistem kehidupan sekarang ini tidak bisa dirubah! Bukannya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sebelumnya tidak ada, kemudian pada 17 Agustus 1945, NKRI diproklamasikan? Bukannya sebelum sistem sekuler diadopsi oleh negara-negara Barat, mereka menerapkan sistem kerajaan dan teokrasi? Bukannya dulu sebelum kaum Muslimin bersatu di bawah naungan Daulah Khilafah, yang kemudian terpecah-belah menjadi negara-negara kecil dulunya juga mempunyai asas sekuler? Makanya, sebenarnya menurutku sistem sekarang juga tentu bisa dirubah. Semuanya bergantung pada kemauan masyarakatnya. Kemauan masyarakat itu bergantung pada kesadaran mereka. Artinya, perubahan sistem seperti apapun bisa saja terjadi.., bergantung pada kemauan dan kesadaran masyarakat.

Memang, banyak kaum Muslimin sekarang yang merujuk pada kaidah syariat yang cukup populer, yaitu memilih kemudharatan atau keburukan yang paling ringan. Namun kenyataannya, kaidah ini digunakan secara sembrono. Padahal nih, kaidah ini hanya bisa digunakan dalam kondisi yang tidak ada pilihan lain kecuali ketika kita dihadapkan dengan dua perkara buruk. Benar bukan? Coba liat lagi pembahasan tentang qiyadah fikriyah..

Lalu pertanyaannya, apakah kita sekarang sedang dihadapkan pada dua pilihan buruk? Tidak bukan. Ayolah fren…. bawalah diri ini dalam perenungan.. Kita tidak sedang ada dalam posisi harus memilih antara sistem demokrasi atau otoriter, tidak juga dalam posisi memilih capres A yang sekuler dengan capres B yang kadar sekulernya lebih sedikit. Kita juga bukan sedang ada dalam pilihan memakai “Islam total tapi dakwah menjadi sulit” atau “Islam setengah-setengah tapi dakwah berjaya”… Tidak sama sekali, Kita masih punya pilihan ketiga. Kita tidak memilih demokrasi, tetapi juga bukan otoriter. Pilihan kita adalah Sistem Daulah Khilafah. Kita juga tidak dalam posisi harus memilih dua calon capres yang sama-sama buruk. Kita masih punya pilihan lain, yaitu mengangkat Khalifah yang akan menerapkan syariat Islam secara total. Daaan.. pilihan-pilihan ketiga lainnya.. yang memang membawa manfaat lebih baik.

Argumentasi kaidah ‘daripada’ ini jelas-jelas berbahaya kalau kita jadikan sebagai patokan dalam tindakan kita sehari-hari. Wuihhh.. Bayangkan aja kalau seorang pelacur menggunakan kaidah ‘daripada’ ini untuk membenarkan tindakannya, “Daripada anak saya harus putus sekolah, lebih baik saya melacur”. “Daripada saya tidak tenang, lebih baik saya menggunakan narkoba”. Daaaan seterusnya, jelas sekali !! kaidah ‘daripada‘ ini merupakan ‘bom waktu’ yang berbahaya bagi kaum muslimin.

Dan sudah jelas, kaidah ‘daripada’ ini juga lah yang telah menjerumuskan teman-temanku dan banyak kaum muslimin sekarang pada sikap ‘plin-plan’, tidak istiqamah. Seperti yang sudah kusebutkan diatas. Sikap plin-plan ini jelas bisa membuat umat kehilangan kepercayaan pada penegakkan Islam dimuka bumi, termasuk pada gagasan syariat Islam. Islam mengatur kehidupan kita secara total, islam bukan hanya mengatur masalah aqidah dan akhlak. Islam juga mengatur bagaimana cara jual beli, bagaimana pelaksanaan hukum yang sesuai, sistem ekonomi dan moneter yang mensejahterakan umat, pokoknya Islam itu mengatur secara toooottttalll… tal.. tal.. Kalau dalam diri kaum muslimin masih saja terdapat ke ‘plin-plan’ an untuk menegakkan Islam secara kaffah, maka penegakan syariat Islam yang merupakan cita-cita kita bersama akan semakin sulit. Naudzu billah!!

*untuk kasus terakhir sudah ane bahas di catatan ane sebelumnya “Balasan Surat Cinta dan   Benci”
liat juga ye… http://aocfkunlam.blogspot.com

12/20/2011

Balasan Surat Cinta dan Benci...

“…perempuan yang keji adalah untuk lelaki yang keji, dan lelaki yang keji untuk perempuan yang keji dan (sebaliknya) perempuan yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk perempuan yang baik.. Mereka (yang baik) itu bersih dari (tuduhan buruk) yang dikatakan oleh orang-orang (yang jahat); mereka (yang baik) itu akan memperoleh ampunan (dari Allah) dan karunia yang mulia..”

            Oke, sedikit intermezzo saja, seorang temanku dulu sangat menyukai ayat tersebut, Qur’an surah An-Nur ayat 26. Katanya sih ayat ini sangat menginspirasi dirinya, dan dapat membuat dirinya tenang kala dirinya sedang dalam masalah, ayo tebak masalah apa? masalah apa lagi jika bukan tentang ‘CINTA’. Hmm.. kupikir memang betul, ayat ini sangat inspiratif, siapa yang tidak senang coba dengan janji Allah ini. Bahwa seorang laki-laki yang baik kelak nantinya akan mendapatkan wanita yang baik pula, dan seharusnya siapapun yang percaya dengan janji Allah ini akan berlomba-lomba dalam kebaikan di jalan-Nya.

            Kita flashback sebentar, satu hari sebelum hari ini. Sore hari dimana beramai-ramai orang sedang asyik-asyiknya melaksanakan kegiatan kampusnya. Tepatnya di area parkir Fakultas Kedokteran UNLAM…

“Panggilan kepada kak nizar agar maju mendampingi adiknya”
“Lho? aku? tersentak aku bingung, waktu itu aku sedang enak-enaknya menyantap snack yang dibagikan panitia. Eh tiba-tiba??
“Wah.. Sepertinya memang sudah direncanakan dari awal oleh panitia rupanya, pantas firasatku buruk..” pikirku dalam hati.

            Ya.. kemarin aku dan kawan-kawan sedang melaksanakan LDKM. Tepatnya kami sedang berada dalam sesi “Pembacaan Surat Cinta Dan Benci Untuk Kaka Panitia”. Entah kenapa waktu itu aku merasakan ‘aura-aura’ buruk dari sang pembawa acara. Nah iya kan… Eureka!

            “Ihiiyyy…” suara sorak sorai mengiringi langkah kakiku yang ragu untuk maju kedepan. Bagaimana tidak ragu? Aku harus dihadapkan dengan seorang akhwat dengan surat yang akan dibacanya. Raguku bukan karena aku takut berhadapan dengan wanita, bukan pula karena aku tidak suka melihat sosok wanita, atau ada yang menyangka aku tidak punya perasaan dengan wanita? (wuiiih.. siapa bilang). Raguku semata-mata karena aku takut dengan Allah, kutakut akan menjadi contoh yang buruk bagi adik-adik asuhku, binaan dariku, yang sudah kuanggap sebagai adik kandungku sendiri. Wajar aku takut, mereka angkatan baru, dan kupikir mereka masih labil. Seandainya aku mencontohkan yang tidak-tidak, mereka bakal mikir macam-macam nantinya.

            Dan benar.. ketika surat itu dibacakan tingkat kausalitas yang tiada henti mencapai puncaknya. Perasaan bergejolak, emosiku sudah mendominasi, apalagi diiringi suara-suara pengganggu dari panitia “..ihiyy..”, “akayahhh..”, “Weiiitsahh…” semakin saja membuatku gusar. “Awas kalian! Bakal kuteror malam ini” gumamku dalam hati. Apalagi saat itu teman seperjuangan dakwah ku pun ikut-ikutan tidak bisa mengontrol interaksinya, semakin menyesakkan dada ini. Grrrr…..

            Aku tundukkan kepala, sambil menghembuskan nafas, dan mencoba berfikir tenang “Awas zar.. jangan sampai hilang kendali, tetap istiqamah. Sekarang ini adik-adikmu sedang menontonmu, kontrol dirimu..” hati nuraniku pun ikut bicara.

Merenung kedalam diri…

            Salah siapakah ini? Apakah aku harus menyalahkan adik-adik tingkat yang menulis surat itu? Atau yang kusalahkan mereka, para panitia? Ataukah salah orang tuaku juga yang melahirkan diriku terlalu ganteng? (*jyahh… gedubrak, tiba-tiba para akhwat diujung sana berjatuhan). Bukan… kupikir bukan salah mereka. Bukan karena adik-tingkat penulis surat-surat tsb, mempunyai perasaan ‘itu’ (baca: CINTA) lumrah, wajar dimiliki, itu juga merupakan salah satu anugerah yang diberikan oleh Allah SWT. Bukan pula karena panitia, yah.. meskipun tersirat ‘licik’ kumaklumi saja, mereka pun sudah sedikit banyaknya mengikuti saranku dalam pelaksanaan LDKM, khususnya pemisahan antara laki-laki dan perempuan, tetapi terkadang memang iman seseorang itu naik turun. Dan bukan kesalahan orang tuaku juga yang melahirkan diriku terlalu ganteng… (*hueekk.. tiba-tiba lagi seorang akhwat muntah karena ke-pede-anku), hehe, Bukan, bukan sama sekali.. Kupikir ini adalah permasalahan bagaimana perasaan CINTA ‘itu’ diarahkan.

            Oke, lupakan semua cerita tentang diriku. Dari awal aku sudah menyinggung tentang ayat Al-Qur’an bahwa “..laki-laki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik pula..” dst. Lalu apa hubungannya dengan kasus yang menimpaku? Kalau sejenak kita berfikir ayat ini sangat indah sekali, janji manis Allah yang benar-benar diperuntukkan kepada hamba-Nya yang taat, bagaikan pelontar dikala semangat untuk menegakkan agama-Nya hampir futur, peneduh diantara banyaknya masalah ‘itu’ yang sering datang tiba-tiba. Bahkan aku sangat setuju dengan kawanku yang benar-benar mengidolakan ayat ini. Ayat ini lah yang berhasil membuatku bisa menahan semua emosiku, ayat ini juga yang sering mengingatkanku untuk tetap istiqamah dalam menjaga interaksiku dengan akhwat, dan ayat ini juga yang sering menekan nafsu jahat ku dikala hampir meledak.

            Jadilah.. bukan carilah..
Inilah sedikit makna dari ayat tersebut. Pada hakikatnya Allah menciptakan manusia dengan berpasang-pasangan. Dan tentu saja, Allah sudah menentukan siapa yang terbaik bagi tiap manusia. Jadi, walaupun kita mempunyai badan kurus kerempeng, pendek, kulit hitam legam, wajah jelek , rambut botak, mata sipit, hidung pesek, bibir dower, gigi selangkah di depan, hidup lagi?? (*sejenak seseorang disudut sana terpaku sedih) jangan khawatir tidak akan mendapatkan jodoh, karena Allah sudah menyiapkan jodoh untuk kita (wah.. dia langsung bersinar, hehe)

            Jadilah.. bukan carilah..
“Keseimbangan”, ya.. keseimbangan.., kalau dipikir-pikir mengapa ayah dan ibu kita sangat cocok sekali? Mengapa dari sekian banyak orang yang sudah berpasangan dan menikah sangat langgeng? inilah jawabannya. Laki – laki baik akan mendapatkan wanita yang baik, wanita yang baik akan mendapatkan laki – laki yang baik. Dan sebaliknya, laki – laki yang buruk akan mendapatkan wanita yang buruk, dan wanita yang buruk akan mendapatkan laki – laki yang buruk pula. Artinya, kalau kita ingin mendapatkan pasangan yang baik, berarti kita harus jadi orang yang baik dulu, dan kalau ingin mendapatkan pasangan yang buruk, maka kita harus jadi orang yang ………. hayoooo

            Jadilah.. bukan carilah…
Maka karena alasan inilah aku dan kawan lamaku dulu bersikukuh untuk benar-benar menjaga interaksi kami dengan akhwat. Karena alasan yang simpel inilah kami terus mencoba menekan nafsu jiwa kami yang sering tiba-tiba membuncah. Karena alasan ini juga yang membuat kami tidak ingin pacaran. Alasannya memang sederhana, jika kami pacaran maka wanita yang nantinya akan mendampingi kami bekas pacar orang, jika kami tidak bisa menjaga interaksi kami, maka otomatis wanita yang akan mendampingi kami mudah digoda orang, jika kami tidak bisa mengontrol nafsu kami, maka dengan konkrit pula wanita yang akan mendampingi kami juga…… ya gitu deh.. de es te.

            CUEK?? Ya.. Mungkin dari sekian surat benci yang kuterima dan kubaca tersirat kata-kata “Cuek” untukku (maaf ya.. untuk adik-adik yang sudah lancang kubaca suratnya, hha). Hmm.. Ijinkan aku membalasnya, mungkin alasan yang tepat untuk menjawab mengapa aku sangat cuek sekali khususnya pada akhwat,  karena aku takut “Kekasih Gelapku” cemburu.

            Kekasih gelap…
Yah bilang aja begitu, soalnya sosoknya hingga kini memang misterius. Jangankan wajahnya, bahkan bayangannya pun tak terjangkau. Jyaaah ! sebegitu gelapnya dan terlampau misterinya!

            Kekasih gelap…
Makanya kubilang ke orang-orang tatkala ditanya tentang kekasih, siapa bilang aku tidak punya kekasih! sudah punya lagi,,, kekasih gelap malah. Iya.., bahkan aku dan dirinya sudah lama dijodohkan. Bukan sembarang perjodohan. Yang menjodohkan adalah Dzat Yang Maha Kuasa, Kuasa segala-galanya.

            Kekasih gelap….
Aku cuma tersenyum sinis sembari leng geleng geleng kepala tatkala melihat yang lain tertipu dengan fatamorgana. Fatamorgana yang mereka katakan cinta…. Mereka berdandan berlebihan … demi satu hal…. mendapatkan kekasih semunya. Sementara disini aku terlampau tenang, hatiku telah nyaman…. aku tidak  perlu ikut-ikutan dalam dandanan berlebihan, kaya iklannya AXIS, ckck aku juga tidak perlu terjerembab mengarang rayuan-rayuan gombal… “Bapak kamu tukang listrik ya?” “Koq tau..” “ Karena kamu telah menggosongkan hatiku..” huekk, tidak perlu! Karena aku telah memiliki kamu.. duhai kekasih gelapku….

            Kekasih gelap…..
Sebuah anugerah indah yang telah dipersiapkan semenjak diri ini tercipta. Sebagaimana kelahiran, kematian, dan rizki telah terpatrikan, maka kekasih pendamping pun telah tergariskan. Tinggal bagaimana azzam kita dalam menggapai garisan itu. Sang kekasih gelap, pelengkap rusuk.. lebih dari itu.. dirinya pelengkap diri… sayap-sayap yang membawa raga melayang arungi samudera. Akayahh...hahahha

            Kekasih gelap….
Firman Allah telah gamblang terurai, Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik…. serta sebaliknya. Jadi, kekasih gelap…. berjanjilah pada ku, kamu mesti mempersiapkan diri.. jadilah kekasih gelap yang cemerlang dengan keshalihannya.. sementara doakan diriku ini juga bisa meniti mengimbangi dirimu.

(Teruntuk kekasih gelapku yang belum jelas keberadaannya dimana(menyedihkan !!) tapi yang pasti saat ini dia sedang kege-eran dengan tulisan ini, hhahh (semua jodoh ditangan Allah takkan pernah ada yang tau kecuali Allah yang maha mengatur segalanya).