About this blog..

Total Tayangan Halaman

Menu

4/10/2013

#Chapter One - PERTANYAAN MENDASAR DALAM KEHIDUPAN?



Bismillah…
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tulisan ini gue mulai dengan sebuah pertanyaan kepada elo semuanya, *******Jreng2********* “Pernahkah Kamu… Duhai Adinda maupun Kakanda, berfikir tentang PERTANYAAN MENDASAR DALAM KEHIDUPAN? Jika jawabannya ‘yes’.. tentu gue tak ingin bermaksud menyinggung tulisan ini, lagipula apalah artinya sebuah “singgungan” jika tak menimbulkan efek yang berarti? (sesuatu banget bukan?). Tapi ternyata, oh, ternyata… Banyak dari kita semua, tidak sadar akan pentingya poin tersebut, bahkan tak peduli, iya….. tak peduli!


Maka, inilah yang mendasari gue untuk kembali mengingatkan kawan2 semuanya untuk kembali membuka pikiran, sembari mengekehkan pendirian gue jua di jalan yang.. (semoga) diridhai Allah ini.


Oke fren, seandainya nih…, elo menempatkan diri loe sebagai orang yang baru sembuh dari kecelakaan motor karena diri loe tak sengaja nabrak banci yang sedang nangkring diper 4 an jalan, ciyus elo digebukin, dan mengalami benturan keras dikepala. Nah, kemudian diri loe lupa akan eksistensi diri dan bahkan memori keseluruhan tubuh loe telah terhapus, saat membuka mata, tak pelak lagi bingunglah engkau duhai adinda kakanda, akan banyak sekali pertanyaan yang muncul dibenak engkau. Hal yang pertama kali engkau amati mungkin tubuhmu sendiri, kamu mengamati bagian2 yg engkau pikir milikmu, mengamati lingkungan sekitar, bingung dengan semuanya.


Untuk sejenak marilah kita menempatkan diri pada posisi tersebut, atau dengan bijaksana mengajukan beberapa PERTANYAAN MENDASAR pada diri kita sendiri? Apakah kita akan berusaha memahami siapakah diri kita? mengapa ada disini? mengapa kita harus ada dan apakah alasan semua ini harus ada? atau apakah kita akan dengan ringannya mengabaikan semua pertanyan tersebut dan hanya peduli tentang “BAGAIMANA AKU MENIKMATI HIDUP INI”? Tidakkah seharusnya PERTANYAAN MENDASAR yang muncul dibenak pikiran kita adalah:


-Siapa aku?
-Siapa yang menciptakanku, siapa yang menciptakan tubuhku yang sempurna ini?
-Siapa yang telah menciptakan seluruh Alam yang teratur dan luar biasa ini?
-Apakah yang Dia (Yang telah menciptakanku) inginkan dariku?
-Apa yang seharusnya kulakukan?

Satu2nya hal yang membuat kita menjadi ‘tidak bijaksana’ dalam memikirkan hal ini adalah karena kita telah berada di dunia ini dalam waktu yang lama. Kita tidak seperti orang yang gue analogikan tadi, yang benar2 lupa akan jati dirinya. Sudah banyak memori yang telah masuk di ruang pikiran kita, begitu banyak pengaruh, dari teman, keluarga, lingkungan. Sehingga, tak jarang kita “TIDAK PEDULI” terhadap poin2 mendasar itu.

Lalu, pertanyaan selanjutnya, apa yang mengingatkan kita? ketika kita lupa/tak sadar akan poin2 tersebut. Inilah fungsi Al-Qur’an yang memang merupakan pedoman n petunjuk hingga akhir zaman, dan hadits Rasulullah, yang memang tujuan diutusnya pun untuk menyadarkan umatnya yang sering lupa akan jati dirinya.

                Mengenai hal ini, coba kita perhatikan POIN2 berikut!

•       Siapa yang menciptakan ku?  Siapa yang menciptakan tubuhku yang sempurna ini? Firman Allah: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (Al-’alaq: 1-2)
•       Siapakah yang telah menciptakan bumi dan isinya ini?Firman Allah: Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?“ Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah.“ Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?“ (Al-Mu’minun: 84-85)
•       Apa tujuan aku diciptakan ? Firman Allah: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka “menyembah-Ku” (Adz-Dzariyat: 56)
•       Siapa yang harus kusembah?  Siapa yang harus aku ta’ati?
(Zat) yang demikian itulah “Allah”, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia.  Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (Yunus: 3)
Hai orang-orang yang beriman, “taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisa: 59)
•       Agama apa  yang harus kupilih? Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah ISLAM (Ali-Imran : 19)
•       Apa yang harus kulakukan dibumi ini? Rasulullah bersabda “Jadilah engkau didunia ini seperti orang asing, atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat” (HR. Bukhari), maksudnya adalah, layaknya seorang musafir yang sedang mengembara ke suatu tempat, ia tidak ingin berdiam lama di tempat yang bukan rumahnya, ia tak menikmatinya, ia ingin bersegera kembali ketempat asalnya, home sweet home. Begitulah seharusnya seorang muslim, kita semua nantinya akan kembali ke tempat asal kita, akhirat kelak. Maka, seorang muslim akan menyadari bahwa mereka di dunia hanya sementara Mereka menyadari bahwa semua akan mereka tinggalkan, Mereka merindukan berkumpul kembali pada tempat asalnya.


Betul bukan??? sebetulnya akan sangat mudah bagi kita untuk menjawab PERTANYAAN MENDASAR tersebut, hanya saja kita malas untuk membaca, memahami, bahkan mengamalkan isi Al-Qur’an dan pesan2 Rasulullah SAW. Sehingga, layaknya ‘butiran debu’ yg terbang kesana-kemari, begitulah engkau nanti ketika lupa akan jati dirimu, tak peduli dgn aturan Allah, maksiat terus, mengejar dunia yg tak ada habisnya, dikasih cobaan dikit ngeyel, diberi nikmat bersyukur, de el el.


“I don’t care bung”, ahh.. ini adalah sebuah penyataan yang gue sayangkan, masalahnya, dirimu tak akan bisa lagi berkata2 seperti itu dihadapan Zat yang Maha Kuasa & dan Maha Adil di Yaumul Akhir nanti, ketika semua amalan2mu bahkan ‘pemikiran’ mu wahai teman…., pasti akan dipertanggungjawabkan.

Oya, ane sekalian promsosi nie cuy, 5 Mei 2013, MK ---->>>>>>

11/12/2012

Solidaritas dan Arti Sahabat


“Ya Allah, Dia adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari dirinya”
-Rasulullah  SAW tentang sang sahabat, Julaibib

 SAHABAT. Ya sebuah kata yang selalu ada selama kehidupan umat manusia. Kebutuhan primer manusia. Sekali lagi sahabat. Ikatan yang dapat menjerumuskan dan menghancurkan para pemuda atau malah sebaliknya. Sekali lagi sahabat, sebuah tema yang menjadi inspirasi bagi film, buku, puisi, dan lirik lagu. 

Sahabat adalah sebuah kebutuhan. Bahkan Nabi Musa as. membutuhkan sahabat dalam urusannya, Nabi Harun as.. Nabi Isa as. pun bersama para sahabatnya, 12 orang Hawariyyin.

Allah pun berfirman kepada Rasulullah SAW:
 “Bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan di waktu pagi dan petang dengan mengharapkan ridha-Nya (TQS al-Kahf:28)
Rasulullah SAW bersabda : “Seseorang bergantung pada agama temannya. Karena itu hendaklah setiap orang memperhatikan dengan siapa ia berteman”

 Sahabat bukanlah orang yang hanya pada kondisi tertentu bersama kita. Namun, sahabat adalah orang pilihan kita. Kita harus melihat apakah ia cocok dengan pendidikan, lingkungan, akhlak, agama, dan tabiat kita. Karena itu Rasul SAW bersabda, “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya.” Pada hari kiamat nanti, kita akan bersama orang yang kita cintai. Karena itu, saatnya kita memilih dengan bersama siapa kita akan dibangkitkan. Betapa penting seorang sahabat dalam hidup ini.

Beruntunglah Umar ra. yang bersahabat dengan Abu Bakar ra. Abu Bakar mampu meluruskan Umar pada karakternya yang keras sehingga kadang menyulitkannya mentaati Sang Nabi. Itulah mungkin jalan yang harus kita tempuh, bersahabat dengan orang-orang mulia. Dan tidak ada kemuliaan kecuali bersama-sama di jalan dakwah. ‘Jalan cinta sang pejuang’ begitu istilah Salim A. Fillah.

 Hubungan persahabatan yang paling indah adalah hubungan karena Allah. Engkau mencintainya karena Allah dan ia mencintai kita karena Allah. Kita melihat banyak sahabat di dunia saling berkhianat dan mencelakakan. Namun yakinlah jika kita saling mencinta karena Allah tentu ia tidak akan menyesatkan kita.
Pernahkah engkau mendengar cerita persahabatan Salman al-farisi dan Abu Darda yang mampu melampaui rasa cemburu dalam pinangan pada seorang wanita. Dan pernahkah engkau mendengar pengorbanan Ikrimah bin Abu Jahal di perang Yarmuk untuk sahabat. Dia meninggal di jalan Allah. Percayalah dengan sedikit contoh tersebut. Cinta karena Allah mampu melampaui batas suka dan tidak suka.

Kita bisa merasakan nikmatnya persahabatan ketika mendengar sebuh hadist Qudsi berikut ini. Sebagaimana uang diriwayatkan oleh Mu’adz ibn Jabal r.a dari Rasulullah SAW. Allah berfirman, “Cinta-Ku wajib untuk mereka yang saling mencintai karena-Ku”.  Bahkan hanya persahabatan dan cinta di jalan Allah yang mampu membuat para nabi dan syuhada iri kepada mereka di hari kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah.

Sungguh aku ingin katakan dengan jujur. Siapa yang tidak mendapatkan sahabat yang ia cintai karena Allah, sungguh ia hidup di dunia tanpa pernah menikmati rasa terindah di dunia. Jika kita belum memiliki sahabat tersebut maka carilah. Semoga Allah memberikan hadiahnya untuk kita. Dan jika kita telah memiliki sahabat-sahabat yang mulia, yang mengingatkan kita jika salah dan senantiasa mengajak pada kebaikan. Maka berbahagialah dan hendaknya ia memegang erat-erat sebab di zaman ini jarang sekali kita temui sahabat seperti ini. Berjanjilah untuk tidak pernah melepasnya.

Dan untuk  menutup catatan ini, saya akhiri dengan sebuah kisah yang mengharukan.
Pada perang Uhud jumlah kaum Muslim yang terbunuh sekitar 70 syuhada, dan yang terluka begitu banyak. Hampir di setiap rumah ada anggota keluarga yang menjadi syahid. Karena itulah Nabi mengarahkan mereka untuk menguburkan setiap dua orang dalam satu kuburan. Para sahabat segera melaksanakan perintah Rasulullah. Beliau sendiri saat itu terluka parah, hingga beberapa gigi beliau patah. Dan yang paling perih bagi Beliau adalah meninggalnya Hamzah r.a yang jantungnya dicobak-cabik Hindun.

Beliau lalu berkata , “Berhentilah sebentar! Carikanlah untukku Abdullah ibn Haram dan Amr ibn al-Jamuh. Kuburkanlah keduanya sekaligus, sebab keduanya saling mencintai di dunia.”

Dalam suasana haru itu, Rasulullah keluar dari rumahnya untuk mencari Abu Bakar r.a dan Umar ibn Khattab r.a. Beliau berdiri bersama mereka di hadapan seluruh sahabat. Beliau berdiri di depan rawdhah. Lalu memegang tangan Abu Bakar r.a dan Umar r.a. Masih dalam tangan yang saling berpegangan, beliau bersabda, “Beginilah kita akan dibangkitkan pada hari kiamat.” Subhanallah. Beginilah ikatan para sahabat di Jalan Allah SWT

 Wahai, sahabat-sahabatku semoga kita juga bisa seperti mereka, reunian di Hari Kiamat dalam suasana saling cinta. Hingga akhirnya persahabatan sejati kita berada di Jannah. Kita duduk bercengkerama berhadap-hadapan di dipan. Bersama-sama memandang wajah Allah.

 Maka aku berharap kalian menasihatiku jika aku salah dan membantuku taat pada-Nya serta izinkan aku menasihati kalian jika ada setitik nila di madu kalian. Jangan lupa sehabis sholat, doakan aku hingga dalam reunian ini aku dapat bersama kalian. Harus kukatakan sungguh indah bersama kalian. Ya Allah aku tidak layak jadi orang saleh tetapi izinkan aku tetap bersama-sama orang-orang saleh di sekitarku. Uhibbukum fillah!

(dikutip dari catatan sahabat saya, semoga dia mendapat balasan pahala yg tiada putus2nya) Syukron inspirasinya...

"TEMAN TERBAIK adalah orang yang jika kamu melihatnya ia mengingatkanmu kepada Allah, yang lisannya menambah ilmu bagimu, yang amalannya mengingatkanmu akan akhirat" (HR. At-Thabrani)